angin sepoi-sepoi menampar kulit wajahku dengan lembut namun pasti, seperti hendak mengelabuhi hatiku yang sedang dilanda kerisauan karena pikiranku yang terbang jauh di awang-awang. Ragaku hendak memberontak, tetapi hatiku seakan menahannya dengan kelembutannya yang khas. Aku ingin menangis tapi tidak kuasa air mata ini mampu meneteskan airnya. Aku ingin berteriak tapi suaraku tercekat, hanya mampu keluar sampai tenggorokanku saja -- dan aku tak mampu menyuarakannya-- walaupun hanya berupa bisikan semata. Di sini aku hanya bisa terdiam memandang gelapnya awan mendung yang menutupi cerahnya langit biru, yang hanya sekejap mampu mempengaruhi hatiku.
Baru satu bulan yang lalu, aku merasakan kebahagiaan yang luar biasa di batas harapanku.Memang sebelumnya aku merasakan ketidakpastian, apakah benar bahagia ini setia membawaku sampai saat ini. Tapi aku mampu menikmatinya hingga hari aku terpuruk karena luka batin yang aku alami.
Hari itu, aku merasa yakin dia akan bisa sadar bahwa orang yang selama ini di dekatnyalah yang akan selalu memberikannya perhatian -- bahkan cinta yang tulus, setulus cinta sejati.
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Minggu, 27 Mei 2012
Jumat, 06 April 2012
"JODOH HANYA DI TANGAN ALLAH"
Malam ini terasa lebih sepi dari malam-malam sebelumnya. Tidak seperti biasanya aku merasa bosan berada di kamarku sendiri.Bapak dan ibu sedang pergi ke rumah tetangga menghadiri acara halal bi halal--tinggalah aku seorang diri.
Sepinya rumahku sering mengingatkanku akan perkataan bapak ibu tentang pernikahan.
Satu temanku sudah menikah lagi minggu depan--yang menambah kegusaran orang tuaku yang mendesakku untuk segera menikah.
Aku tahu, mereka pantas mendesakku seperti itu--karena 25 tahun adalah umur yang sepantasnya bagi seorang wanita untuk membina rumah tangga.
Ibu selalu bilang bahwa wanita tidak pantas menikah terlalu tua, memalukan. Seperti tadi pagi saat aku buru-buru berangkat bekerja.
" owalahh ndok..ndok...berangkat buru-buru lagi...?" sambil menyiapkan sarapanku yang entah aku makan atau tidak. Tapi biasanya aku selalu menyempatkan untuk sarapan terlebih dahulu walau sudah terlambat masuk kerja. Tapi hari ini aku ingin cepat-cepat sampai sekolah mengajar anak-anak.
" inggih buk..." sambil membenahi kerudungku yang sedari tadi tidak mau diajak kompromi.
" itulah gunanya kalau kamu sudah punya suami, ada yang mengantarkanmu pulang pergi kesekolahan--jadi ibu tidak khawatir, dibandingkan kamu naik sepeda sendirian". Sambil terus menatap kesibukanku.
Sepinya rumahku sering mengingatkanku akan perkataan bapak ibu tentang pernikahan.
Satu temanku sudah menikah lagi minggu depan--yang menambah kegusaran orang tuaku yang mendesakku untuk segera menikah.
Aku tahu, mereka pantas mendesakku seperti itu--karena 25 tahun adalah umur yang sepantasnya bagi seorang wanita untuk membina rumah tangga.
Ibu selalu bilang bahwa wanita tidak pantas menikah terlalu tua, memalukan. Seperti tadi pagi saat aku buru-buru berangkat bekerja.
" owalahh ndok..ndok...berangkat buru-buru lagi...?" sambil menyiapkan sarapanku yang entah aku makan atau tidak. Tapi biasanya aku selalu menyempatkan untuk sarapan terlebih dahulu walau sudah terlambat masuk kerja. Tapi hari ini aku ingin cepat-cepat sampai sekolah mengajar anak-anak.
" inggih buk..." sambil membenahi kerudungku yang sedari tadi tidak mau diajak kompromi.
" itulah gunanya kalau kamu sudah punya suami, ada yang mengantarkanmu pulang pergi kesekolahan--jadi ibu tidak khawatir, dibandingkan kamu naik sepeda sendirian". Sambil terus menatap kesibukanku.
Langganan:
Postingan (Atom)

